SELAMAT DATANG SOBAT, JANGAN LUPA SIMPAN ALAMAT BLOG WWW.GRUPSYARIAH.BLOGSPOT.COM SUPAYA SOBAT MUDAH UNTUK BERKUNJUNG KEMBALI DISINI

Hubungan Filsafat Pendidikan Dengan Ontologi Epistemologi Dan Aksiologi

Hubungan Filsafat Pendidikan Dengan Ontologi Epistemologi Dan Aksiologi | Alat-Alat Dalam Pendidikan Islam (GS) 
BAB I PENDAHULUAN
Istilah filsafat yang biasanya di pakai untuk menggambarkan pandangan hidup yang demikian, disebut pragmatisme. Dalma lapangan pendidikan lebih lazim dipakai istilah-istilah “Instrumentalisme” dan “Experimentalisme”.
Dalam arti terbatas pragmatisme adalah suatu teori pikir. Menurut John Dewey pragmatisme adalah “The Rule Of Referring All Thinking to Consequences for Final Meaning and Test”). Untuk mengetahui apakah pikir itu benar, perlu dilihat hasil pikiran itu. Jika pikiran itu berhasil, mempunyai arti bagi sipemikir, maka pikiran itu benar. Ini berarti pragmatisme, dipakai dalam arti yang lebih luas, menurut John Dewey. Akan tetapi lazim juga istilah pragmatisme yaitu meliputi sekelompok keyakinan filsafat mengenai alam dan manusia.
Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang filsafat pendidikan yang diantaranya tentang hubungan antara  filsafat pendidikan dengan ontology, epistemology, aksiologi dan masih banyak lagi yang akan di jelaskan dan yang terkandung di dalam makalah ini yang akan dijelaskan oleh penulis.
BAB II PEMBAHASAN
FILSAFAT PENDIDIKAN
A.    Hubungan Filsafat Pendidikan Dengan Ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi
1.      Hubungan antara ontologi dengan pendidikan
Ontologi merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan.Berisi mengenai hal-hal yang bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia dan objek apa yang diteliti ilmu. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi pendidikan ialah sisi yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan. Jadi hubungan ontologi dengan pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana disitulah teletak undang-undang dasarnya dunia ilmu.
2.      Hubungan antara epistemologi dengan pendidikan
            Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan,sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan,metode atau caraa memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan. Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta atau kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagai mana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kebenarannya.
Jadi hubungan epistemologi dengan pendidikan adalah untuk mengembangkan ilmu secara produktif dan bertanggung jawab serta memberikan suatu gambaran-gambaran umum mengenai kebenaran yang diajarkan dalam proses pendidikan.
3.      Hubungan antara aksiologi dengan pendidikan
            Aksiologi mempelajari mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan,menyelidiki hakikat nilai,serta berisi mengenai etika dan estetika.Penerapan aksiologi dalam pendidikan misalnya saja adalah dengan adanya mata pelajaran ilmu sosial dan kewarganegaraan yang mengajarkan bagaimanakah etika atau sikap yang baik itu,selain itu adalah mata pelajaran kesenian yang mengajarkan mengenai estetika atau keindahan dari sebuah karya manusia.  Dasar Aksiologis Pendidikan adalah Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab (http://www.arizalf.blogspot.com/).
B.     Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan
Dalam proses pertumbuhannya, filsafat sebagai hasih pemikiran para ahli filsafat atau para filosof sepanjang kurun waktu dengan objek permasalahan hidup di dunia, telah melahirkan berbagai macam pandangan. Pandangan-pandangan para filosof itu, ada kalanya satu dengan  yang lain hanya bersifat saling menguatkan, tetapi tidak jarang pula yang berbeda atau berlawanan. Hal ini antara lain disebabkan terutama oleh pendekatan yang dipakai oleh mereka berbeda, walaupun untuk objek permasalahannya sama. Karena perbedaan dalam system pendekatan itu, maka kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan menjadi berbeda pula, bahkan tidak sedikit yang saling berlawanan. Selain itu faktor zaman dan pandangan hidup yang melatar belakangi mereka, serta tempat di mana mereka bermukim juga ikut mewarnai pemikiran mereka.
Menyimak kembali sejarah pertumbuhan dan perkembangan filsafat, akan menjadi jelas adanya perbedaan seperti diatas, begitu pula halnya dengan filsafat pendidikan, bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan berbagai pandangan atau aliran (Filsafat Pendidikan Islam. 2008:19).

Untuk mengenal perkembangan pemikiran filsafat pendidikan, dibawah ini aliran-aliran filsafat dalam pendidikan, yaitu:
1.      Aliran Progresivisme
Adalah suatu aliran filsafat pendidikan yang sangat berpengaruh dalam abad ke 20 ini. Pengaruh itu terasa diseluruh dunia terlebih di Amerika Serikat. Usaha pembaruan di dalam lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran progresivisme ini.
Biasanya aliran progresivisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup liberal “The Liberal Rood to Culture”. Yang dimaksud dengan ini adalah pandangan hidup yang mempunyai sifat sebagai berikut: Fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu), Curious (ingin mengetahui, ingin menyelidiki), toleran dan open-minded (mempunyai hati terbuka) (Theodore Brameld, New York: 1956).
Sifat-sifat aliran progresivisme dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu (1) sifat negative dan (2) sifat positif.
Sifat itu dikatakan negative dalam arti bahwa progresivisme menolak otoritarisme dan absolutism dalam segala bentuk, seperti misalnya terdapat dalam Negara, politik, etika dan epistemology. Positif dalam arti bahwa progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang di warisi oleh manusia dari alam sejak ia lahir, Mans Natural Powers. Terutama yang dimaksud ialah kekuatan-kekuatan manusia untuk terus menerus melawan dan mengatasi kekuatan-kekuatan yang timbul dari lingkungan hidup yang mengancam.
Istilah filsafat yang biasanya di pakai untuk menggambarkan pandangan hidup yang demikian, disebut pragmatisme. Dalma lapangan pendidikan lebih lazim dipakai istilah-istilah “Instrumentalisme” dan “Experimentalisme”. Dalam arti terbatas pragmatisme adalah suatu teori pikir. Menurut John Dewey pragmatisme adalah “The Rule Of Referring All Thinking to Consequences for Final Meaning and Test”). Untuk mengetahui apakah pikir itu benar, perlu dilihat hasil pikiran itu. Jika pikiran itu berhasil, mempunyai arti bagi sipemikir, maka pikiran itu benar. Ini berarti pragmatisme, dipakai dalam arti yang lebih luas, menurut John Dewey. Akan tetapi lazim juga istilah pragmatisme yaitu meliputi sekelompok keyakinan filsafat mengenai alam dan manusia.
Progresivisme yakin bahwa manusia mempunyai kesanggupan untuk mengendalikan hubungan dengan alam, sanggup meresapi rahasia, sanggup menguasai alam, sanggup meresapi rahasia alam, sanggup menguasai alam, maka tugas pendidikan menurut pragmatisme ialah meneliti sejelas-jelasnya (Joe Park, Milan Publishing: 1974).
Kesanggupan-kesanggupan manusia itu dan menguji kesanggupan itu dalam pekerjaan praktis. Yagn dimaksud disini adalah bahwa manusia hendaknya mempekerjakan ide-ide atau pikiran-pikirannya. Manusia tidak hanya berpikir, namun berpikir untuk berbuat. Pragmatisme manolak “Pure Intellectualisme”. Bagi pragmatisme, jiwa dan pikiran manusia dipakai menghadapi tugas hidup yang maha besar. Pragmatisme menolak pendapat, bahwa manusia itu tidak berdaya, bahwa manusia hanya dapat menyerah saja kepada kekuatan-kekuatan dalam lingkungannya. Pragmatisme berpendapat, bahwa pendidikan adalah alat kebudayaan yang paling baik. Bahwa dengan pendidikan sebagai alat, manusia dapat menjadi The masters, not the slaves of social as well other kinds of natural change.
Perkembangan Aliran Progresivisme
Meskipun progmatisme-progmatisme sebagai aliran pikiran baru muncul dengan jelas pada pertengahan abad ke 19, akan tetapi garis perkembangannya dapat ditarik jauh kebelakang sampai pada zaman Yunani Purba. Misalnya Herarlitus  (+ 544- + 484), Socrates (469- 399), Protogoras (480-410), dan Aristoteles mengemukakan pendapat yang dianggap sebagai unsure-unsur yang ikut menyebabkan terjadinya sikap jiwa yang disebut dengan Pragmatisme-progresivisme.
Heraclitus mengemukakan bahwa, sifat yang terutama dari realita ialah perubahan. Tidak ada sesuatu yang tetap di dunia ini semuanya berubah-ubah kecuali asas perubhan itu sendiri. Socrates berusaha mempersatukan epistemology dan aksilogi. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kunci untuk kebijakan. Protogoras seorang sophis, mengajarkan bahwa kebenaran dan norma atau nilai (value) tidak bersifat mutlak, melainkan relative, yaitu bergantung kepada waktu dan tempat.
Dalam abad ke 19 dan ke 20 ini tokoh-tokoh pramatisme terutama terdapat di Amerika Serikat. Thomas Paine dan Thomas Jefferson memberikan sumbangan pada pragmatisme karena kepercayaan mereka akan demokrasi dan penolakan terhadap sikap yang dogunatis, terutama dalam agama. Charles S. Peirce mengemukakan teori tentang pikiran dan hal berpikir, pikiran itu hanya berguna atau berarti bagi manusia apabila pikiran itu bekerja yaitu memberikan pengalaman manusia untuk berbuat. Perasaan dan gerak jasmaniah (perbuatan) adalah manifestasi-manisfestasi yang khas dari aktivitas manusia dan kedua hal itu tidak dapat dipisahkan, jika dipisahkan, perasaan dan perbuatan menjadi abstrak dan dapat menyesatkan manusia. Tokoh pragmatisme yang lebih terkenal ialah William James dan John Dewey. (Filsafat Pendidikan Islam. 2008: 22-24).

2.      Aliran Essensialisme
Essensialisme muncul pada zaman Renaissans, dengan cirri-ciri utamanya yang berbeda dengan progressisme. Perbedaan ini terutama dalam memberikan dasar berpijak mengenai pendidikan yagn penuh fleksibilitas, dimana serba terbuka untuk perbuatan, toleransi dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Bagi essensialisme, pendidikan yang berpijak pada dasar pandangan itu mudah goyah dan kurang terarah. Karena itu essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas.
Essensialisme didasari oleh pandangan humanism yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, serba ilmiah dan materialistic. Imam Barnandib (1981), menyebutkan beberapa tokoh utama yang berperan dalam penyebaran aliran esensialisme, yaitu:
-          Desiderius Erasmus, humanis Belanda yang hidupa pada akhri abad ke 15 dan permulaan abad ke 16, yang merupakan tokoh pertama yang menolak pandangan hidup yang berpijak pada dunia lain. Erasmus berusaha agar kurikulum sekolah bersifat humanistic dan bersifat internasional, sehingga bisa mencakup lapisan menengah dan kaum Aristocrat.
-          John AmosComenius (1592-1670) berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan penting membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan, karena pada hakikatnya dunia adalah dinamis dan bertujuan.
-          John Locke, tokoh di Inggris yang hidup  pada tahun 1632-1704 sebagai pemikir dunia berpendapat bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi. Locke mempunyai sekolah kerja untuk anak-anak miskin.
-          Johann Henrich Pestalozzi, sebagai seorang tokoh yang berpandangan naturalis yang hidup pada tahun 1746-1827, mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia, sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya.
-          Johann Friederich Frobel (1782-1852) sebagai tokoh yang berpandangan kosmis-sintesis dengan keyakinannya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari ala mini, sehingga manusia tunduk dan mengikuti ketentuan hukum alam.
-          Johann Friederich Herbert yang hidup pada tahun 1776-1841, sebagai salah seorang murid Immanuel Kant yang berpandangan  kritis, Herbert berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan hukum-hukum kesusilaan dan inilah yang disebut dengan proses pencapaian tujuan pendidikan oleh Herbert sebagai pengajaran yang mendidik.
William T. Harris, tokoh dari Amerika Serikat hidup pada tahun 1835- 1909. Harris yang pandangannya dipengaruhi oleh Hegel berusaha menerapkan idealism objektif pada pendidikan umum (Filsafat Pendidikan Islam. 2008: 22-24).
Tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan di akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian, dan segala hal yang mampu menggerakan  kehendak manusia. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum essensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum, seperti pola idealism, realism dsb. Sehingga peranan sekolah dalma menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat (Imam Barnadib, Yogyakarta: hal. 38-40).
3.      Aliran Perennialisme
Perennialisme diambil dari kata Perennial, yang dalam Oxford Advanced Learnert Dictionary of Current English diartikan sebagai continuing throughout the whole year atau lasting for a very long time, abadi atau kekal. Dari makna yang terkandung dalam kata itu, aliran perennialisme mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi.
Perennialisme melihat bahwa akibat dari kehidupan zaman modern telah menimbulkan banyak krisis di berbagai kehidupan umat manusia. Untuk mengatasi krisis ini, perennialisme memberikan jalan keluar berupa “Kembali pada kebudayaan masa lampau”, oleh karena itu, perennialisme memandang penting peranan pendidikan dalam proses mengembalikan keadaan manusia zaman modern ini kepada kebudayaan masa lampau bukanlah berarti nostalgia, sikap yang membanggakan kesuksesan dan memulihkan kepercayaan pada nilai-nilai asasi abad silam yang juga di perlukan dalam kehidupan abad modern.
Asas yang dianut perennialisme bersumber pada filsafat kebudayaan yang terikat  dua, yaitu (1) perennialisme yang theologies, bernaung di bawah supremasi gereja katolik, dengan orientasi pada ajaran dan tafsir Thomas Aquinas dan (2) perennialisme sekuler berpegang teguh pad aide dan cita filosof plato dan Aristoteles (Muhammad Noorsyam, hal.153).

Prinsip-prinsip Pendidikan Perennialisme
Dibidang pendidikan, perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya: Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Dalam hal ini, pokok pikiran plato tentang hukum universal yang abadi dan sempurna, yakni ideal, sehingga ketertiban sosial hanya akan mungkin bila ide itu menjadi  menjadi ukuran, asas normative dalam tata Pemerintahan. Maka tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar dan mempraktekan asas-asas normative itu dalam semua aspek kehidupan.
Menurut Plato, manusia secara kodrati memiliki tiga potensi, yaitu: nafsu, kemauan dan pikiran. Pendidiknya hendaknya berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, agar supaya kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Ide-ide Plato itu di kembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. Bagi Aristoteles, tujuan pendidikanadalah kebahagianan. Untuk mencapai tujuan pendidikan itu, maka aspek jasmani, emosi dan intelek harus dikembangkan secara seimbang
Seperti halnya prinsip-prinsip Plato dan Aristoteles, tujuan pendidikan yang dimulai oleh Thomas Aquinas adalah sebagai “Usaha mewujudkan kapasitas” aktif dan nyata. Dalam hal ini, peranan guru adalah mengajar, memberi bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya (Muhammad Noorsyam, hal.158-159).
Prinsip-prinsip pendidikan perennialisme tersebut perkembangannya telah mempengaruhi system pendidikan modern, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi.


4.      Aliran Rekonstruksionalisme
Pada dasarnya, aliran rekonstruksionalisme adalah sepaham dengan aliran perennialisme dalma hendak mengatasi krisis kehidupan modern. Hanya saja jalan yang ditempuhnya berbeda dengan apa yang dipakai oleh perennialisme, tetapi sesuai dengan istilah yang dikandungnya, yaitu berusaha membina suatu consensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia, restore to the original form.
Untuk mencapai tujuan ini, rekonstruksionalisme berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalma suatu tatanan baru seluruh lingkungannya. Maka melalui lembaga dan proses pendidikan, rekonstruksionalisme ingin merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup yang sama sekali baru. Disini Nampak ada kesamaan dengan Dewey dalam “Education as Reconstruction”. Dalam rangka mewujudkan cita-cita pendidikan yang dimaksud diatas, diperlukan adanya kerja sama semua bangsa-bangsa (Muhammad Noorsyam, hal.183).
Para penganut aliran rekonstruksionalisme berkenyataan bahwa bangsa-bangsa didunia mempunyai hasrat yang sama untuk menciptakan satu dunia baru, dengan satu kebudayaan baru di bawah satu kedaulatan dunia, dalam pengawasan mayoritas  umat manusia. Barangkali pikiran-pikiran rekonstruksionisme inilah yang kemudian menjiwai pandangan pemuka-pemuka dunia, seperti yang terumuskan dalam Nort-South: A Program For Survival (the Report of the independent commission on international development issues under the chairmanship of willy brandt-dialog utara selatan komisi Willy Brandt dalam rangka menciptakan kelestarian dunia).
5.      Aliran Eksistensialisme
Eksistensialisme bisa diartikan sebagai suatu reaksi dari sebagian terbesar reaksi terhadap peradaban manusia yang hampir punah akibat perang dunia kedua. Dengan demikian,  eksistensialisme pada hakikatnya adalah merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia serta dengan keadaan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya (Fuad Hasan: 1974 hal, 7-8).
Sebagai aliran filsafat, eksistensialisme berbeda dengan filsafat eksistensi. Paham eksistensialisme secara radikal menghadapkan manusia pada dirinya sendiri, sedangkan filsafat eksistensi adalah benar-benar sebagai arti katanya, yaitu: Filsafat yang  menempatkan cara wujud manusia sebagaitema sentral. Maka, disini, letak kesulitan merumuskan pengertian eksistensialisme sendiri tidak memperoleh para filosof eksistensialisme sendiri tidak memperoleh perumusan yang sama tentang eksistensialisme itu pendivinisi (Fernando, R Molina: 1969: hal1).
Secara singkat, Kierkegaard memberikan pengertian eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional. Dengan demikian, aliran ini hendak memadukan hidup yang dimiliki dengan pengalaman, dan situasi sejarah yang ia alami dan tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak serta spekulatif. Pandangan tentang pendidikan, disimpulkan oleh Van Clece Morris dalam Existentialisme and Education, bahwa “Eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk. Disinilah mengapa aliran eksistensialisme tidak banyak dibicarakan dalam filsafat pendidikan (Paul Raubiczek: 1966:10).

C.    Implikasi Epistemologi, Aksiologi, Dan Metafisika Di Dalam Pendidikan
-          Implikasi Epistemologi di Dalam Pendidikan
Telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan (Kattsoff, 1992:327)  atau studi tentang hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari nilai-nilai (Sarwan, 1984:22). Penerapan aksiologi sebagai nilai-nilai dalam dunia pendidikan dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.      Aliran filsafat progressivisme telah memberikan sumbangan yang besar terhadap dunia pendidikan karena telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan,dan kebebasan kepada anak didik, oleh karena itu, filsafat ini tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab pendidikan otoriter akan mematikan potensi pebelajar untuk mengembangkan potensinya.
Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru yang memberikan warna dan corak dari kreasi yang dihasilkan dari situasi yang tercipta secara edukatif. Setiap pebelajar mempunyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang dimilikinya yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Potensi tersebut bersifat kreatif dan dinamis untuk memecahkan problema-problema yang dihadapinya (Hamdani, 1993:146).
2.      Aliran essensialisme berpandangan bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai budaya yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Kebudayaan yang diwariskan kepada kita telah teruji oleh seluruh zaman, kondisi, dan sejarah. Kesalahan kebudayaan modern sekarang menurut aliran ini ialah cenderung menyimpang dari nilai-nilai yang diwariskan itu
Esessialisme memandang bahwa seorang pebelajar memulai proses pendidikannya dengan memahami dirinya sendiri, kemudian bergerak keluar untuk memahami dunia objektif. Dari mikrokosmos menuju makrokosmos. Dengan landasan pemikiran tersebut, maka belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada dirinya sendiri (Sahabuddin, 1997:191)..
3.       Aliran perenialisme berpandangan bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh pandangan tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Menurut Plato manusia secara kodrati memiliki tiga potensi yaitu nafsu, kemauan, dan pikiran. Pendidikan hendaknya berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat dapat terpenuhi. Sedangkan Aristoteles lebih menekankan pada dunia kenyataan. Tujuan pendidikan adalah kebahagian untuk mencapai tujuan itu, maka aspek jasmani, emosi dan intelektual harus dikembangkan secara seimbang.
Menurut Robert Hutchkins dalam bahwa manusia adalah animal rasionale, maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi agar seseorang dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri (Jalaluddin, 1997:96).
4.       Aliran rekonstruksionisme ingin merombak kebudayaan lama dan membangun kebudayaan baru melalui lembaga dan proses pendidikan. Perubahan ini dapat terwujud bila melalui usaha kerja sama semua umat manusia atau bangsa-bangsa. Masa depan umat manusia adalah suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh suatu golongan. Cita-cita demokrasi yang sebenarnya bukan hanya dalam teori melainkan harus menjadi kenyataan, dan terlaksana dalam praktik. Hanya dengan demikian dapat pula diwujudkan satu dunia yang dengan potensi-potensi teknologi mampu meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, dan jaminan hukum bagi masyarakat, tanpa membedakan warna kulit, nasionalitas, kepercayaan, dan agama. (Sahabuddin, 1987:194).

-          Implikasi ontologi dalam pendidikan

Prestasi teknologis ilmu-ilmu alam modern sudah kita ketahui bersama. Kita hidup di jaman produk-produk ilmiah: mobil, pesawat terbang, listrik, TV, plastik dan sebagainya. Konsekuensi teknologi modern tidak selalu positif. Contohnya, energi atom diiringi dengan tindak pemusnahan. Revolusi industri, yang memungkinkan standar kehidupan kita sekarang, juga mengusung hujan buatan misalnya, yang menghancurkan hutan kita, dan pada gilirannya juga mengotori udara yang kita hirup. Kemungkinan bencana alam seperti itu diciptakan oleh kurangnya kejelasan dan ketertiban di dunia dalam kita, dunia moral. Sementara alam fisis menyerah pada keingintahuan pikiran, dunia moral di jaman kita tampaknya telah menjadi tanah kosong yang sesungguhnya. Kita tak lebih jauh lagi mengembangkan kemampuan kita dalam membuat keputusan-keputusan moral dibandingkan nenek moyang kita dulu. Hasil kekacauan moral tampak misalnya pada kejahatan yang mengancam keamanan masyarakat, manipulasi yang dilakukan pemerintah di semua tingkatan, perang antar negara, dan disintegrasi kehidupan berkeluarga (di kultur Barat) atau gap antara si kaya dan si miskin (kultur Timur).
Aksiologi adalah studi tentang nilai atau kualitas. Aksiologi mencakup etika dan estetika – bidang filsafat yang sangat terkait pada gagasan tentang nilai – dan kadang-kadang disamakan dengan teori nilai dan meta-etika (pada pembahasan ini ditambah dua bidang, yakni filsafat politik dan filsafat kebajikan yang juga menyangkut nilai-nilai kemanusiaan pokok).  Istilah ini berkembang di abad ke-19 dan 20, tetapi pada dekade-dekade sekarang ini teori nilai cenderung menggesernya dalam diskusi-diskusi sifat dasar nilai atau kebaikan secara umum. Aksiologi adalah ilmu tentang nilai. Kata “axiology” beasal dari bahasa Yunani Kuno “axios” (berharga atau benilai) dan “logos” (logika atau teori), yang berarti teori nilai. Pengembangan ilmu memungkinkan pengukuran objektif tentang nilai sama akuratnya dengan termometer pengukur panas. Satu wilayah penting penelitian untuk aksiologi ini adalah aksiologi formal, atau kekakuan matematis. Teori nilai ini juga digunakan dalam bidang ekonomi. Beberapa definisi terminologis aksiologi:
  1. Cabang filsafat yang terkait dengan masalah nilai, misalnya nilai etika, estetika, politik, agama.
  2. Studi sifat dasar tipe dan kriteria nilai-nilai dan pertimbangan nilai, khususnya dalam etika (John Warfield).
  3. Teori umum nilai; studi sasaran-sasaran kepentingan (Lotze).
Aksiologi memiliki banyak kegunaan: membangkitkan pengetahuan baru tentang dunia ini dan menciptakan kerangka referensi yang menyediakan cara baru melihat diri dan lingkungan. Apa yang lebih penting lagi adalah pengetahuan ini bagi setiap pengamat mestinya bersifat objektif dan independen. Selain ontologi dan epistemologi, beberapa istilah penting lain yang terkait erat dengan aksiologi adalah:
  • Psikologi: psikologi yang sungguh-sungguh “rasional” atau “filosofis” yang terkait dengan manusia sebagai “yang ada”
  • Teodice: Ilmu filosofis tentang Tuhan, Sebab Pertama, Sang Pencipta – kadang-kadang disebut “teologi natural”
  • Logika: Ilmu filosofis tentang pemikiran yang lurus
  • Etika: Ilmu filosofis yang terkait dengan perbuatan manusia – kadang-kadang disebut dengan “filsafat moral”
  • Politik: Ilmu filosofis tentang tujuan sosial manusia, termasuk bentuk pengorganisasian negara
  • Estetika: Ilmu filosofis yang mempelajari seni, keindahan, nilai-nilai artisti(http://elearning.unesa.ac.id/myblog/alim-sumarno/kajian-aksiologi)

-          Implikasi epistemologi dalam pendidikan

Era sekarang ini seringkali disebut-sebut sebagai era informasi, namun sesungguhnya di belakang pernyataan ini secara implisit terkandung pengertian mengenai era ilmu pengetahuan dan teknologi yang mungkin membuat semua pencapaian material dan ( sebagian ) yang non-material di sekitar kita. Masyarakat hidup dari, dengan, dan melalui hasil-hasil ilmu pengetahuan, tetapi ada sebuah jurang yang dalam sekali antara apa yang secara teoretis dimengerti oleh masyarakat, dapat diharapkan dan apa yang sungguh-sungguh tertera dalam perwujudannya. Ketika ilmu pengetahuan dan metodenya diperkenalkan ke masyarakat baik melalui pendidikan formal maupun non-formal. Berbicara tentang landasan filosofis yang mendasari ilmu-ilmu maka kita tidak akan bisa berhadapan dengan polarisasi epistemologis. Polarisasi ini melandasi setiap pandangan yang menyangkut tujuan kegiatan keilmuan dan kedudukan pernyataan-pernyataan keilmuan didalam hubungannya dengan dunia. Keyakinan ontologis – epistemologis ini diterapkan dalam konteks keilmuan, maka faham realisme keilmuan dimaksudkan sebagai doktrin yang terdiri dari empat tesis utama, yaitu :
  1. Ungkapan teoretis pada teori-teori keilmuan ( yaitu ungkapan non- observational ) harus diterima sebagai dugaan terhadap ungkapan yang mempunyai acuan ; teori harus ditafsirkan realistik.
  2. Teori-teori keilmuan, yang ( harus) ditafsirkan secara realistik ini, dapat ditegaskan dan pada kenyataannya seringkali mendekati melalui bukti-bukti keilmuan yang ditafsirkan secara standar metodologis biasa.
  3. Sejarah kemajua ilmu-ilmu yang matang sebagian besar merupakan urut-urutan pendekatan yang kian cermat terhadap kebenaran, baik menyangkut gejala teramatkan maupun takteramatkan. Teori-teori yang muncul kemudian pada umumnya dibangun diatas pengetahuan ( obsevational dan teoritis ) yang ada pada teori sebelumnya.
  4. Realitas yang diperlukan oleh teori-teori keilmuan sebagian besar tidak bergantung pada permikiran ataupun komitmen teoritis kita.
Pengetahuan dilihat sebagai jawaban yang mungkin untuk menyelesaikan persoalan dan bukan gambaran bagaimana dunia sesungguhnya. Penerapan terhadap dunia pendidikan akan tercermin dalam sikap yang melihat peserta didik sebagai manusia-manusia yang berorientasi ke masa depan, yang selalu memecahkan masalah. Pendidikann adalah rekontruksi dan transformasi terus-menerus karena manusia karena senantiasa berinteraksi dengan dunia sekitarnya
BAB III KESIMPULAN

Istilah filsafat yang biasanya di pakai untuk menggambarkan pandangan hidup yang demikian, disebut pragmatisme. Dalma lapangan pendidikan lebih lazim dipakai istilah-istilah “Instrumentalisme” dan “Experimentalisme”. Dalam arti terbatas pragmatisme adalah suatu teori pikir. Menurut John Dewey pragmatisme adalah “The Rule Of Referring All Thinking to Consequences for Final Meaning and Test”). Untuk mengetahui apakah pikir itu benar, perlu dilihat hasil pikiran itu. Jika pikiran itu berhasil, mempunyai arti bagi sipemikir, maka pikiran itu benar. Ini berarti pragmatisme, dipakai dalam arti yang lebih luas, menurut John Dewey. Akan tetapi lazim juga istilah pragmatisme yaitu meliputi sekelompok keyakinan filsafat mengenai alam dan manusia.
Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan salah satu cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan,sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan,metode atau caraa memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Fernando R.Molina,  The Sources of Eksistensialisme As Phylosopy, New Jer sey.
Fuad Hasan,  Kita dan Kami, Bulan Bintang, Jakarta: 1974
Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, Yayasan Penerbit FIP IKIP Yogyakarta.
Kasttoff, Louis O. Element of Philosophy diterjemahkan oleh Soejono
Paul Roubiczek, Existentiation For and Againt, Cambridge, University Press, 1966.
Sahabuddin. Filsafat Pendidikan suatu Pengantar ke dalam Pemikiran, Pemahaman, dan Pengamalan Pendidikan Bersendikan Filsafat. Ujung Pandang. Program Pascasarjana IKIP, 1997.
Sarwan, HB. Filsafat Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994.
Soemargono, Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.
Theodore Brameld, The Pattern of Educational Philosopy, The Mac. Milan Company. New York. 1956
Joe Park, Selected Readings in the Phylosopy of Education, New York, Mac.Milan, Publisher co. Inc. 1974


0 komentar:

Poskan Komentar

NB: Berikan Komentar yang sopan dan berkenaan dengan Artikel diatas.

Saya mohon maaf jika komentar sahabat dan rekan blogger terlambat di respon Karena banyaknya kegiatan yang mengikat he he he, Silahkan copas asalkan cantumkan juga sumbernya yah...!

Copyright: © 2012- By : Grup Syariah Metro™ Kumpulan Makalah Pendidikan Dan Tempat Berbagi Ilmu Pengetahuan
Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute